Showing posts with label KLB. Show all posts
Showing posts with label KLB. Show all posts

Gagalnya Imunisasi Pemicu Wabah Difteri di Jatim

Kementerian Kesehatan menduga kemungkinan ada 4 faktor yang menyebabkan wabah penyakit difteri di Jawa Timur.

Faktor itu adalah, karena cakupan imunisasi gagal mencapai target, imunisasi tidak merata di seluruh wilayah, imunisasi gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak dan terdapat kantong-kantong endemis difteri yang gagal penuhi target imunisasi.

"Fakto-faktor itu bisa jadi yang menjadi penyebab utama merebaknya outbreak difteri di Jawa Timur," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama dalam perbincangan dengan Media Indonesia, Senin (10/10).

Sebagaimana diketahui, penularan difteri sejatinya dapat dicegah dengan pemberlakuan program imunisasi. Pemberian vaksin DPT (difteri, tetanus dan polio) dapat memberikan kekebalan anak-anak dari penyakit tersebut. Vaksinasi DPT sendiri masuk dalam kebijakan program imunisasi wajib yang diberikan pemerintah.

Tjandra mengatakan, agar hasilnya optimal, syaratnya paket vaksin DPT yang diberikan minimal harus menjangkau 90-100% sasaran cakupan, khususnya pada kantong-kantong difteri.

Ditambahkan, respons tubuh balita terhadap vaksin dalam membentuk antibodi (kekebalan) terhadap corynebacterium diphtheriae-bakteri penyebab difteri juga berbeda-beda.

Selain reaksi tubuh anak terhadap vaksin berpengaruh pada jadi atau tidaknya kekebalan terbentuk, faktor ketepatan waktu pemberian imunisasi yang tepat juga berpengaruh pada faktor pembentukan antibodi.

Varibel lain, seperti mobilitas penduduk dari wilayah kantong endemis difteri, kata Tjandra, bisa menjadi penyebab lain timbulnya wabah di Provinsi Jawa Timur.

Pada kesempatan itu, dirinya membantah berita yang mengatakan bahwa dalam 10 bulan terakhir, difteri telah menewaskan 328 anak usia 1-10 tahun di Jawa Timur. ”Yang 300-an anak itu bukan yang meninggal, tetapi yang terjangkit,” tegas Tjandra.

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Jawa Timur, hingga saat ini penyakit difteri telah menyebabkan 11 anak meninggal di wilayah tersebut.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, akibat wabah difteri yang merajalela, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menetapkan kejadian luar biasa (KLB) difteri di seluruh Jatim.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi akan menggelar vaksinasi massal di beberapa daerah persebaran difteri, terutama di 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik, dan Banyuwangi. (kompas.com)

Imunisasi Difteri Bisa Saja Tidak Efektif

Imunisasi untuk memberikan kekebalan penyakit difteri sudah ada dalam paket vaksin DPT pada setiap balita yang dijangkau paparan vaksinasi dengan cakupan yang cukup besar, 90-100 persen. Akan tetapi, respons setiap individu anak bisa berbeda, berhubungan dengan jadwal imunisasi yang kurang tepat, atau tubuh anak sendiri yang bisa saja tidak bereaksi menumbuhkan kekebalan.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Dr Mulyatim, Senin (10/10/2011).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Mursidah, Minggu, diberitakan telah menghadiri rapat para kepala dinkes se-Jawa Timur yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Soekarwo, yang telah memberi peringatan perihal bahaya kejadian luar biasa difteri di Jawa Timur. "Hari Senin ini setelah apel pagi, dinkes menyelenggarakan rapat untuk membahas ini," katanya.

Di Kabupaten Malang belum ditemukan kasus meninggal dunia meski ada kasus kejangkitan difteri. Namun, Mulyatim belum mendapatkan informasi angka prevalensi (kemunculan) saat ini. Pengobatannya dikatakan sudah diketahui dan distribusi obatnya juga telah ada di Puskesmas sehingga jika kasusnya ditemukan, seharusnya penanggulangannya sudah terantisipasi dengan baik.

Demikian juga dengan pencegahannya melalui imuniasi yang seharusnya bisa mencapai 100 persen anak jika prosedur penjaringan anak berjalan dengan baik di tingkat puskesmas. (kompas.com)

Penanggulangan Difteri Butuh 3 Tahun

Gerakan imunisasi guna menanggulangi meluasnya penularan penyakit harus dilakukan secara berkelanjutan. Setidaknya butuh waktu tiga tahun untuk menekan kasus penularannya.

Pakar penyakit tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Ismoedijanto menuturkan, penyakit difteri juga pernah menyebar di Eropa. Dengan program imunisasi yang berkelanjutan, kasus penularannya terus menurun.

"Jadi tidak bisa ditanggulangi dalam waktu cepat, butuh program yang berkelanjutan," katanya.

Idealnya imunisasi bisa menjangkau sasaran sampai 95 persen. Sedangkan saat ini, di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur masih ada daerah-daerah yang belum mendapat imunisasi. "Jadi imunisasinya masih bolong-bolong. Ada anak-anak yang belum diimunisasi. Orangtua mereka ini perlu dicari dan dirayu agar anaknya diimunisasi," jelasnya.

Sejak Januari hingga sekarang, ada 328 orang yang terkena difteri di Jawa Timur. Sebagian besar adalah anak-anak. Dari jumlah itu, 11 orang meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Mujib Affan mengatakan, penularan penyakit difteri sudah mulai meningkat sejak 2008. Setiap tahun jumlah kasusnya terus bertambah, dengan daerah penularan yang semakin meluas. Sampai saat ini penyebaran penyakit ini sudah meluas ke 34 kabupaten/kota. Oleh karena itu, imunisasi akan diadakan di 34 kabupaten/kota tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Jatim Soekarwo menetapkan kejadian luar biasa (KLB) difteri di seluruh Jawa Timur. Itu dilakukan karena dalam 10 bulan terakhir terdapat 328 anak meninggal akibat difteri.

Terhadap data ini, Ismoedijanto meluruskannya. Menurut dia, dalam 10 bulan terakhir ada 328 orang menderita difteri, 11 di antaranya meninggal. (kompas.com)

Bakteri Penyebab Difteri Cepat Menular

Bakteri yang memicu penyakit difteri bisa menular dengan sangat cepat. Oleh karena itu, mereka yang rentan tertular bakteri tersebut dan tinggal dalam satu lingkungan dengan penderita harus segera diimunisasi agar tidak tertular.

Pakar penyakit tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Ismoedijanto menuturkan, difteri adalah penyakit infeksi karena bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini bisa menular dengan sangat cepat sehingga saat masuk rumah sakit, pasien difteri biasanya diisolasi.

Penyakit ini juga mematikan. Jika infeksinya berat, maka seseorang yang tertular bisa meninggal pada hari ketiga atau keempat. Penderita rata-rata meninggal karena bakteri mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi jantung, ginjal, atau pernapasan.

Menurut dia, penyakit ini menular pada mereka yang belum pernah mendapat imunisasi saat bayi. Selain itu, mereka yang mendapat imunisasi tidak lengkap juga rentan tertular. "Penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi," ucapnya, Minggu (9/10/2011).

Anak-anak paling rentan tertular penyakit ini. Namun, remaja dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi juga bisa tertular. "Dua bulan lalu ada satu santri di sebuah pesantren yang terkena difteri. Agar tidak tertular, sekitar 1.600 santri di pesantren itu langsung diimunisasi," ujarnya.

Sejak Januari hingga sekarang, ada 328 orang yang terkena difteri di Jawa Timur. Sebagian besar adalah anak-anak. Dari jumlah itu, 11 orang meninggal dunia.

Sebelumnya diberitakan, dalam 10 bulan terakhir sudah 328 anak meninggal akibat difteri di berbagai wilayah di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kemudian menetapkan kondisi luar biasa difteri di seluruh Jawa Timur, meskipun sebaran terbanyak ada di 11 kabupaten/kota.

Terhadap data itu, Ismoedijanto meluruskan bahwa yang benar 328 orang terinfeksi, dan 11 orang di antaranya meninggal. (kompas.com)

Surabaya Cegah Penyebaran Difteri

Kota Surabaya berupaya mencegah penyebaran penyakit difteri dengan imunisasi. Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Esti Martiana di Surabaya, Minggu (9/10/2011), mengatakan, semua puskesmas dan posyandu di Surabaya siap mencegah penyebaran penyakit difteri yang umumnya menyerang anak dan balita yang tidak diimunisasi dan imunisasinya belum lengkap.

Menurut dia, hingga September, ada 43 kasus penyakit difteri di Surabaya, 1 di antaranya meninggal, dan jumlah ini hampir sama dengan tahun lalu sebanyak 50 orang, 7 orang meninggal.

Jika ada pasien menderita penyakit difteri di suatu wilayah harus segera dilakukan ORI (Outbreak Respons Immunization). Pencegahan perlu segera karena penyakit mematikan itu disebabkan bakteri Coryne diphtheriae yang menyerang tenggorokan dan racunnya bisa mengenai jantung, ginjal, dan saraf belakang.

Vaksin yang digunakan untuk imunisasi difteri, tambah Esti, harus vaksin yang potensial. Vaksin ini tidak boleh disimpan atau dipindahkan sembarangan dan harus disimpan pada suhu 4 sampai 8 derajat celsius.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Mudjib Affan mengatakan, untuk mengatasi penyebaran difteri, pihaknya telah memberikan ORI secara gratis di seluruh puskesmas dan posyandu yang ada di Jawa Timur. Dia mengakui tingginya kasus difteri akibat masih minimnya kesadaran orangtua akan pentingnya imunisasi bagi anak. Padahal, setiap melahirkan, baik di bidan, rumah sakit, maupun puskesmas, setiap orangtua pasti dianjurkan untuk segera mengimunisasi anak mereka. (kompas.com)

328 Anak Tewas, Jatim KLB Difteri

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menetapkan kejadian luar biasa (KLB) difteri di seluruh Jatim. Hal itu dilakukan karena dalam 10 bulan terakhir penyakit yang menyerang anak usia 1-10 tahun itu telah menewaskan 328 anak.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi akan menggelar vaksinasi massal di beberapa daerah persebaran difteri, terutama di 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik, dan Banyuwangi. Vaksinasi akan dilakukan mulai Senin besok.

Menurut Soekarwo, Minggu (9/10/2011), 11 daerah itu merupakan daerah dengan jumlah persebaran difteri terbesar.

Dikatakan Soekarwo, penerapan KLB tidak hanya dilakukan di 11 daerah, melainkan total di seluruh kabupaten/kota se-Jatim. Guna mengentaskan KLB difteri, Pemprov akan menganggarakan Rp 8 miliar. (kompas.com)

Campak Tewaskan 1.145 Orang di Kongo

Wabah penyakit campak telah menewaskan 1.145 anak di Republik Demokratik Kongo sejak Januari, kata misi Urusan Kemanusiaan PBB di Kinshasa, Senin (25/7/2011).

Wabah itu "telah menjangkiti 115.600 anak dan menewaskan 1.145 anak" antara Januari dan Juni, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah pernyataan. Hal itu mendorong vaksinasi 3,1 juta anak di lima provinsi di Kongo, lanjut pernyataan tersebut.

Kampanye itu dimulai Mei setelah lembaga swadaya masyarakat Medecins Sans Frontieres (MSF) menyesalkan kurang giatnya organisasi seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam menangani apa yang mereka artikan sebagai epidemi "yang tak dapat dikendalikan" itu. Republik Demokratik Kongo sekarang juga sedang memerangi wabah kolera dan polio. (kompas.com)

Bendung Penyebaran Campak Eropa, Kantor Kesehatan Pelabuhan Diimbau Waspada

World Health Organization (WHO) Eropa telah menyatakan terjadinya wabah campak yang menyebar di daratan Eropa. 30 negara Eropa melaporkan peningkatan nyata kasus campak.

Untuk itu Kementrian Kesehatan melakukan beberapa upaya untuk mengantisipasinya. Direktur Jenderal Penyehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama memaparkan telah mengirim surat edaran ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia.

''KKP agar meningkatkan kewaspadaan, mengikuti perkembangan (sesuai juga dengan International Health Regulation/IHR) dan menyiapkan sumber daya kalau diperlukan nantinya,'' tuturnya.

Selain itu Kemkes juga melakukan koordinasi dengan WHO untuk mencek apakah ada anjuran tertentu yang direkomendasikan sehubungan perjalanan internasional. ''Namun sejauh ini belum ada anjuran rekomendasi perjalanan internasional,'' tutur Tjandra.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | TokoPasutri