Showing posts with label Vaksin. Show all posts
Showing posts with label Vaksin. Show all posts

Koalisi Global Kampanyekan Vaksinasi Baru bagi Campak dan Rubella

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia dan merupakan penyebab utama kematian dan cacat di kalangan anak-anak di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang, meskipun vaksin yang aman, efektif dan terjangkau sudah tersedia. 

Pengumuman mengenai gerakan vaksinasi baru itu muncul dengan data baru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai tingkat kematian akibat campak. WHO adalah mitra dalam inisiatif baru ini, yang juga dipimpin oleh Palang Merah Amerika, Yayasan PBB, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika, dan Dana Anak-anak PBB (UNICEF). 

Anthony Lake, Direktur Eksekutif UNICEF, mengatakan kampanye imunisasi di seluruh dunia telah menurunkan angka kematian akibat campak dari 2,5 juta pada tahun 1980 menjadi hanya 139.000 sekarang ini - dan menurunkan angka kematian sebanyak 74 persen sejak tahun 2000. Lake mengatakan jangkauan vaksin itu mencapai sekitar 95 persen anak-anak, bahkan di daerah terpencil dan miskin. 

"Ini adalah salah satu pencapaian besar dalam sejarah kesehatan masyarakat. Namun kabar buruknya, campak masih menyebabkan kematian 382 jiwa, setiap hari, sebagian besar adalah balita. Padahal mereka sebenarnya bisa diselamatkan dengan dua dosis vaksin seharga 22 sen," papar Lake. 

Dalam tiga tahun ke depan, strategi baru itu bertujuan untuk mengurangi infeksi campak secara global sebesar 95 persen dari tahun 2000. Tujuan kedua adalah untuk memberantas rubella pada tahun 2020 di lima kawasan di dunia. 

Prakarsa baru itu mendorong sekitar 62 negara yang selama ini tidak memberi vaksinasi melawan rubella untuk melakukannya dengan suntikan kombinasi campak-rubela. Ini menjamin bahwa tidak akan ada bayi yang lahir dengan penyakit bawaan terkait rubella, mulai dari cacat jantung sampai bisu tuli dan kebutaan. 

Rencana tersebut juga menyerukan cakupan vaksinasi yang luas, pemantauan dan pengawasan penyakit, respon yang cepat terhadap wabah, penelitian penyakit dan pengembangan alat-alat diagnostik baru. 

Tetapi, dananya masih kurang, kata Kathy Calvin, CEO Yayasan PBB, mitra lain dalam inisiatif inokulasi itu. Dia mengatakan dana tambahan 112 juta dolar diperlukan untuk mencapai tujuan pemberantasan campak dan rubella secara global pada tahun 2015. 

"Kami ingin semua orang, dari para pemimpin dunia sampai individu, meningkatkan komitmen mereka untuk memberantas campak dan rubella, jika kita ingin mencapai tujuan itu," ujarnya. 

Calvin menambahkan bahwa sedikit saja sumbangan dari orang di seluruh dunia dapat membantu menyelamatkan banyak nyawa. (voaindonesia.com)

Tanya Jawab Kehalalan dan Keamanan Vaksin

Saat ini beredar di masyarakat berbagai pertanyaan dan keraguan terkait dengan kehalalan vaksin. Untuk menjawab semua itu, Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Dr. Soedjatmiko akan menjawabnya lewat tanya jawab sebagai berikut:

Bagaimana cara mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian akibat penyakit menular pada bayi dan balita ?

Pencegahan umum: berikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan.

Pencegahan khusus: berikan imunisasi lengkap, karena dalam waktu 4 – 6 minggu setelah imunisasi akan timbul antibodi spesifik yang efektif mencegah penularan penyakit, sehingga tidak mudah tertular, tidak sakit berat, tidak menularkan kepada bayi dan anak lain, sehingga tidak terjadi wabah dan tidak terjadi banyak kematian.

Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita ?

Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .

Mengapa ada “ilmuwan” menyatakan bahwa imunisasi berbahaya ?

Tidak benar imunisasi berbahaya. “Ilmuwan” yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. Sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.

Benarkah “ilmuwan kuno” yang sering dikutip buku, tabloid, milis, ternyata bukan ahli vaksin ?

Benar, mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).

Benarkah dokter Wakefield “ahli vaksin”, membuktikan MMR menyebabkan autism ?

Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.

Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?

Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.

Benarkah isu bahwa “semua zat kimia” berbahaya bagi bayi ?

Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak pernah belajar ilmu kimia. Oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia. Buktinya oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri atas serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral. Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya. Jadi zat-zat kimia umumnya justru sangat dibutuhkan untuk manusia asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman.

Benarkah vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?

Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan” 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia.

Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?

Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.

Benarkah vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?

Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir.

Benarkah program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?

Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.

Benarkah isu di buku, tabloid dan milis bahwa di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?

Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.

Benarkah isu bahwa banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?

Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

Demam, bengkak, merah setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya?

Tidak berbahaya. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.

Benarkah vaksin Program Imunisasi di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Muslim?

Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

Benarkah isu di tabloid, milis, bahwa program imunisasi gagal?

Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50 – 150 tahun lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda.

Contoh :

- Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola.

- Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %.

- Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986

- Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika

Benarkah program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?

Tidak benar program imunisasi gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Bayi balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.

Benarkah imunisasi bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?

Benar. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, setelah wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.

Mengapa di Indonesia ada buku, tabloid, milis, yang menyebarkan isu bahwa vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?

Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari “ilmuwan” tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 – 40 tahun lalu (1970 – 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah alias bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 – 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa.

Bagaimana orangtua harus bersikap terhadap isu-isu tersebut?

Sebaiknya semua bayi dan balita diimunisasi secara lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.

Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati. Hal ini telah terbukti di Indonesia, di mana wabah polio merebak pada tahun 2005-2006 (305 anak lumpuh permanen), wabah campak 2009 – 2010 (5.818 anak dirawat di RS, meninggal 16), dan wabah difteri 2010-2011 (816 anak di rawat di RS, 56 meninggal).

Bisakah ASI, gizi, dan suplemen herbal menggantikan imunisasi ?

Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati.

Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi dan herbal?

Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.

Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya ?

Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.

Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi ?

Benar. Itu sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika dan di Indonesia.

Contoh: wabah polio 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam hitungan beberapa bulan, virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, menyebabkan 305 anak lumpuh permanen.

Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat 2010-2011 mengakibatkan 5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 anak di antaranya meninggal dunia.

Wabah difteri dari Jawa Timur 2009 – 2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal.

*Penulis adalah :
  1. Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia 2002-2008.
  2. Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI).
  3. Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang - Pediatri Sosial, Magister Sains Psikologi Perkembangan.

Riset Vaksin Nasional Dilakukan secara Sinergi

Setelah sekian lama berjalan sendiri-sendiri, akhirnya pemerintah dalam hal ini Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Litbangkes), industri (PT. Bio Farma) dan beberapa perguruan tinggi bekerjasama dalam pengembangan riset vaksin secara nasional.

"Kami dari Biofarma dan Litbangkes berharap bahwa hari ini memasuki era baru. Seperti diketahui bersama, bahwa sangat sulit menyatukan seluruh kekuatan yang ada di tingkat nasional khususnya untuk riset vaksin," kata Drs. Iskandar, Apt, MM, Direktur Utama PT. Bio Farma, kepada wartawan, Selasa, (26/7/2011).

Dengan bersatunya seluruh stakeholder dalam pengembangan riset vaksin, diharapkan industri vaksin khususnya di negara-negara berkembang harus mampu menyediakan vaksin dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

"Ini kepentingan nasional, bahkan dunia. Kalau kita bercerai berai seperti sekarang dalam riset vaksin, sampai kapan pun tidak akan pernah bisa membuat produk. Paling-paling membuat jurnal internasional. Dan itu tidak ada nilai jual, dalam arti tidak bisa mensejahterakan rakyat secara langsung," ujarnya.

Sementara itu DR. Triyono Sundoro, PhD, Staf Ahli Bidang Pengendalian Risiko, Kementerian Kesehatan mengatakan, semua vaksin di periode manapun dituntut mempertimbangkan kemudahan cara pemberian. Misalnya menghasilkan respon kekebalan yang lebih lama, keamanan ketika digunakan, serta harga yang terjangkau.

"Para peneliti di lembaga penelitian pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi dan industri diharapkan fokus dalam pengembangan vaksin yang bermutu," kata Triyono.

Demi mendukung tujuan tersebut, Bio Farma akan melakukan penandatanganan 2 (dua) nota kesepahaman (MOU) dengan Universitas Brawijaya untuk riset vaksin kontrasepsi pria, serta Universitas Jendral Achmad Yani untuk riset vaksin Rabies. Selain itu, juga akan dilakukan 3 (tiga) penandatanganan persetujuan dengan Universitas Indonesia untuk riset vaksin HPV, HIV, dan pandemik influenza berbasis rekayasa genetika.

"MOU, menggalang potensi, menggali dan mengajak potensi nasional universitas dan industri (Biofarma). Marilah kita bersinergi menggapai hari esok untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan," tandas Iskandar.

Dengan adanya sinergi antara pihak akademisi, pemerintah dan bisnis diharapkan akan mempercepat tercapainya terget riset vaksin nasional dan akan memberikan dampak positif terhadap pencapaian tujuan dekade vaksin 2011-2020. (kompas.com)

Vaksin yang Beredar Buatan Indonesia

Selama ini banyak orang berpikir vaksin imunisasi yang beredar di Indonesia sebagai produk dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. Ketidaktahuan tersebut tidak jarang membuat beberapa kalangan masyarakat merasa khawatir dalam memberikan anak mereka vaksin.

Kekhawatiran yang berkembang saat ini diantaranya adalah adanya isu bahwa vaksin yang beredar tidak terjamin keamanan dan kehalalannya. "Program vaksin imunisasi bukan bikinan Amerika Serikat. Vaksin di Indonesia adalah buatan Biofarma Bandung. Mestinya harus di buat iklan biar orang tahu," ucap dr. Soedjatmiko, SpA (K), Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat, (22/7/2011), di Jakarta.

Bahkan, vaksin buatan PT. Biofarma Bandung, lanjut Soedjatmiko, tidak hanya beredar di Indonesia saja, tetapi sudah digunakan oleh UNICEF untuk hampir lebih dari 120 negara di dunia. "Negara-negara lain percaya pada vaksin kita. Kok bangsa kita sendiri yang nggak percaya sama vaksin kita. Itu ironis sekali," katanya.

Soedjatmiko menegaskan, tidak ada fatwa MUI yang menyatakan melarang dalam penggunaan vaksin imunisasi. Dan itu adalah poin terpenting, dan harus diingat masyarakat.

Ia menegaskan hal tersebut karena masih banyak informasi berbeda yang berkembang di masyarakat soal pemberian vaksin. Padahal, imunisasi bermanfaat menurunkan angka kesakitan, kematian dan cacat.

Menurut data WHO, sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. Di Eropa, imunisasi rutin dilakukan di 43 negara, Amerika 37 negara, Australia dan sekitarnya 16 negara, Afrika di 52 negara, Asia 48 negara.

"Banyak teman-teman yang keliru mengatakan bahwa negara yg sudah maju tidak ada yang imunisasi. Tidak betul. Boleh di cek kepada kedutaan negara-negara itu. Mereka tetap melakukan imunisasi," jelasnya.

Menurut dia, negara miskin tetap harus melakukan imunisasi. Bahkan justru negara miskin yang lebih membutuhkan. Karena gizi dan lingkungan masih kurang baik. Tetapi kenyataan saat ini, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, justru sering terjadi penolakan yang sumbernya kadang-kadang tidak begitu kuat alasannya.

"Amerika, Inggris, Prancis, yang begitu kaya dan maju mereka tetap melakukan imunisasi. Bahkan vaksin disana lebih banyak daripada vaksin di negara-negara miskin. Karena mereka sadar bahwa penyakti-penyakit lain bisa dicegah dengan vaksin," tandasnya.

Disemua negara, imunisasi diawasi dan dikaji tim-tim ahli dan pemerintah. Di Indonesia pengawasan dilakukan melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Suatu vaksin baru boleh dipakai jika sudah dikaji oleh BPOM, setelah itu dilihat apakah efektif, aman dan diperlukan dinegara itu. (kompas.com)

5 Mitos Vaksin Yang Menyesatkan

Meski sudah diperkenalkan sejak awal abad 20, hingga saat ini cakupan vaksinasi di berbagai tempat belum mencapai 100 persen. Malah, jumlah anak yang mendapat vaksin menurun. Di Indonesia sendiri cakupan imunisasi baru sekitar 60 persen.

Padahal, vaksinasi sudah terbukti menjadi cara yang murah dan efektif untuk mencegah angka kesakitan dan kematian pada anak-anak akibat penyakit infeksi.

Berikut adalah lima mitos menyesatkan seputar vaksin dan fakta di balik mitos itu.

1. Vaksin tidak penting
Sampai saat ini penyakit yang berhasil dieradikasi (hilang) barulah cacar bopeng (small pox). Penyakit lain, meski vaksinnya sudah ditemukan puluhan tahun lalu, masih ada. Misalnya saja polio, cacar air atau batuk rejan.

2. Anak-anak mendapat terlalu banyak vaksin dan terlalu dini
Vaksin adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi penyakit yang dihadapi anak-anak dari lingkungan setiap hari.

"Tubuh anak terus menerus menghadapi banyak hal yang membuat sistem imun mereka bekerja keras, mulai dari bakteri di tubuh kita sendiri juga bakteri yang berasal dari makanan, minuman dan udara," kata Paul Offit, direktur Vaccine Education Center dari RS Anak Philadelphia.

Pakar imunologi dari University of California, AS, meneliti jumlah vaksin yang bisa direspon oleh tubuh seseorang pada satu waktu. Setelah mempertimbangkan berbagai jenis komponen dalam vaksin, termasuk protein bakteri, mereka menemukan bahwa bayi dan anak-anak bisa merespon dengan aman 100.000 vaksin dalam sekali waktu. Padahal rata-rata seorang anak mendapatkan 14 jenis vaksin dalam waktu dua tahun.

3. Vaksin MMR sebabkan autisme
Mitos ini mulai berkembang tahun 1998 ketika Dr.Andrew Wakefield dan timnya mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal The Lancet. Mereka mengamati kesehatan 12 anak, yang 8 diantaranya mengalami gangguan perkembangan yang menurut orangtua anak-anak itu disebabkan oleh vaksin MMR. Hasil studi itu menimbulkan kepanikan di seluruh dunia dan menyebabkan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi turun drastis.

Padahal awal tahun ini para editor dari The Lancet secara resmi menyatakan menarik penelitian itu karena menyebarkan informasi keliru. Setelah penelitian yang mendalam, para ahli termasuk dokter di WHO menyatakan vaksin MMR tidak terkait dengan peningkatan kasus autisme di dunia.

Berbagai penelitian telah dilakukan dan tidak ditemukan kaitan antara vaksin MMR dengan autisme. Salah satu studi terbesar dan jangka panjang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine di tahun 2002. Studi itu mengamati kesehatan 537.000 anak dan menemukan angka autisme antara anak yang mendapat vaksin dan tidak ternyata sama saja.

4. Vaksin tidak 100 persen aman
Mitos ini mungkin ada benarnya. Namun, berjalan kaki pun tidak menjamin kita aman 100 persen bukan? Kita bisa saja terjatuh atau tersenggol motor. Nyatanya hal itu tidak membuat orang jadi takut untuk berjalan kaki di pinggir jalan.

Kebanyakan vaksin yang diberikan lewat injeksi memang bisa menyebabkan nyeri, merah dan bengkak pada kulit di bagian yang disuntik. Efek samping lainnya adalah demam dan reaksi alergi. Kendati begitu, sifat efek samping itu individual. Lagipula risikonya lebih besar jika anak tidak diimunisasi. Teknologi vaksin pun semakin canggih sehingga reaksi terhadap vaksin jauh lebih jarang dan ringan.

5. Vaksin tidak efektif cegah penyakit
Kebanyakan vaksin yang sekarang ini beredar sudah ada dalam kurun waktu 50 tahun, sehingga kebanyakan orangtua tidak mengenal jenis-jenis penyakit yang bisa dicegah oleh imunisasi.

Misalnya saja, sebelum vaksin tersedia tahun 1963, hampir seluruh anak di AS terkena cacar air sebelum usia 15 tahun. Di negara itu, penyakit ini tiap tahun membunuh 450 orang, kebanyakan anak-anak. Namun setelah vaksin diperkenalkan, kasus cacar air menurun menjadi hanya 37 di tahun 2004.

Sayangnya, sejak tahun 2006, jumlah anak yang terkena cacar air meningkat menjadi 130. Menurut data CDC, kebanyakan anak tersebut tidak divaksin atas permintaan orangtua pasien sendiri.

Tren yang sama juga terjadi di Inggris dimana jumlah penderita cacar air naik dari 56 kasus di tahun 1998 menjadi 1324 kasus di tahun 2008. Penyebabnya juga karena orangtua tak mau memvaksin anaknya.

Vaksin Baru dan Tb

PENELITI dari Imperial College London, London, Inggris, menemukan protein baru yang disebut EspC yang terbukti lebih efektif mencegah penyakit tuberkulosis atau Tb jika dibandingkan dengan BCG.

Ketua peneliti Ajit Lalvani menyatakan protein EspC lebih menjanjikan dijadikan vaksin anti-Tb karena protein itu mampu mengembangkan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan cara kerjanya lebih spesifik, yakni membunuh Mycobacterium tuberculosis.

Menurut Lalvani, selama ini vaksin BCG digunakan sebagai imunisasi Tb, tetapi tidak cukup efektif karena faktanya masih sekitar 2 juta orang di seluruh dunia meninggal dunia setiap tahun akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. (mediaindonesia.com)

10 Vaksin yang Dibutuhkan Balita

Ancaman kuman dan virus yang semakin merajalela membuat tubuh balita rentan terkena penyakit.

Balita memang mempunyai kekebalan tubuh alami, tapi kekebalan tubuhnya itu terkadang tidak mampu melindunginya dari ancaman kuman yang mematikan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 10 vaksin yang dibutuhkan balita. Tetapi tidak semua vaksin ini wajib diberikan tergantung kondisinya.

Seperti dilansir Health, Rabu (9/3/2011) ke-12 vaksin yang diperlukan balita baik yang wajib maupun tidak adalah sebagai berikut:

1. Hepatitis B
Vaksin ini wajib diberikan ke balita bahkan sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Vaksin ini diberikan 12 jam setelah bayi lahir. Vaksin ini diberikan sebanyak 3 kali.
  • Pertama adalah 12 jam setelah lahir
  • Kedua, 1-2 bulan dari vaksin yang pertama harus diberikan lagi
  • Ketiga, 6-18 bulan setelah vaksin yang kedua.
Vaksin ini melindungi bayi dari virus hepatitis B yang sulit disembuhkan yang mana balita bisa terkena dari ibu yang mengidap hepatitis selama proses persalinan.

Virus ini menyebar melalui kontak darah atau cairan tubuh lain. Efek samping setelah divaksin ini adalah demam ringan. Menurut Gabrielle Gold-von Simson, MD, asisten profesor pediatri di NYU Langone Medical Center di New York, demam ringan adalah gejala yang paling umum dialami balita.

2. DPT atau DTP
Vaksin ini wajib diberikan yang merupakan campuran dari tiga vaksin yaitu untuk mencegah penyakit difteri (yang menyerang tenggorokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menimbulkan kejang-kejang).

Vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali dan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Untuk penguatannya bisa dilakukan pada anak umur 12 tahun dan kemudian dilakukan lagi setiap 10 tahun.

"Vaksin DPT bisa diberikan bersamaan dengan hepatitis dan polio," kata Dr Emas-von Simson.

3. Polio
Vakin ini di Indonesia wajib diberikan karena ancaman polio yang masih ada. Vaksin ini untuk menangkal kelumpuhan akibat virus polio. Vaksin polio pertama diberikan setelah lahir. Kemudian vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini bisa diulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

4. BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Vaksin ini wajib diberikan yang gunanya mencegah penyakit TB (Tuberkulosis). Vaksin BCG bisa 80 persen efektif mencegah TBC selama jangka waktu 15 tahun. Imunisasi BCG hanya dilakukan sekali yakni ketika bayi berusia 0-11 bulan. Tapi kebanyakan diberikan saat bayi berusia di bawah 2 bulan.

5. Vaksin Campak, Gondong dan Rubela (MMR)
Vaksin MMR melindungi anak dari tiga virus: campak (yang menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh-lebar), gondong (yang menyebabkan rasa sakit wajah, pembengkakan kelenjar liur, dan kadang-kadang pembengkakan skrotum pada laki-laki), dan rubella atau campak Jerman (yang dapat menyebabkan kecacatan lahir jika infeksi terjadi selama kehamilan).

Vaksin ini pertama diberikan pada anak saat usia 12 hingga 15 bulan dan pada usia antara 4 dan 6 tahun.

6. Cacar air
Cacar air adalah ruam yang sangat menular yang disebabkan oleh virus varicella. Infeksi cacar air dapat sangat berbahaya dan pada orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan atau tidak divaksin di masa kecil dapat menyebabkan herpes zoster.

Pemberian kepada anak-anak dilakukan pada usia 12 sampai 15 bulan dan kemudian dilakukan lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun.

Efek samping pemberian vaksin ini menyebabkan rasa sakit dan bekas di tempat suntikan, demam atau ruam ringan.

Keenam vaksin tersebut oleh dokter di Indonesia biasanya wajib diberikan. Namun selain 6 vaksin itu ada juga vaksin lain yang kadang diberikan ke balita sesuai kondisi.

7. Vaksin Hib tipe B (Haemophilus influenza)
"Haemophilus influenza tipe b adalah bakteri yang menyebabkan meningitis," kata Dr Emas-von Simson. Meningitis adalah penyakit peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang yang sangat berbahaya untuk anak-anak di bawah usia 5.

Vaksin Hib umumnya diberikan pada anak usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan. Efek sampingnya antara lain demam, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan.

8. Vaksin Pneumococcal konjugasi (PCV)
Vaksin ini dikenal sebagai PCV13 (nama merek Prevnar), melindungi terhadap 13 jenis Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan segala macam penyakit termasuk meningitis, pneumonia, infeksi telinga, infeksi darah, dan bahkan kematian.

Vaksin ini diberikan sebanyak empat kali pada anak usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan untuk melindungi anak dari kuman yang dikenal sebagai bakteri pneumokokus.

Efek samping yang paling umum dari pemberian vaksin ini adalah mengantuk, bengkak di tempat suntikan, demam ringan, dan mudah emosi.

9. Vaksin Influenza (flu)
Pemberian vaksin ini terutama dilakukan di negara-negara 4 musim yang dilakukan setiap tahun dimulai pada musim gugur.

Centers for Disease Control and Prevention AS atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan pemberian vaksin ini untuk anak-anak usia 6 bulan atau lebih.

Efek samping yang umum dari vaksin ini adalah rasa sakit, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan. Bisa juga mengalami demam dan nyeri.

"Tapi jika anak Anda memiliki alergi telur maka tidak harus dilakukan vaksinasi influenza," kata Dr Emas-von Simson.

9. Vaksin Rotavirus (RV)
Vaksin Rotavirus (RV) dengan merek seperti RotaTeq, Rotarix diberikan kepada anak-anak usia 2 dan 4 bulan. RotaTeq juga diberikan pada anak usia 6 bulan. Vaksin ini melindungi anak terkena diare parah serta muntah-muntah yang banyak terjadi pada anak-anak di seluruh dunia.

Vaksin ini berbentuk cairan dan diberikan melalui mulut bayi. Efek sampingnya anak gampang emosi, diare ringan atau muntah-muntah.

10. Vaksin Hepatitis A
Di Indonesia, balita jarang diberikan vaksin hepatitis A tapi langsung hepatitis B karena lebih berbahaya hepatitis B.

Anak-anak gampang tertular hepatitis A dari makanan atau minuman. Ini adalah infeksi virus yang mempengaruhi hati, dan dapat menyebabkan sejumlah gejala, termasuk demam, kelelahan, sakit kuning, dan kehilangan nafsu makan.

Pemberian vaksin ini diberikan pada anak-anak usia 12 sampai 23 bulan. Efek sampingnya rasa sakit di tempat suntikan, sakit kepala dan hilangnya nafsu makan sementara. (detik.com)

"Komitmen Bandung", Kemandirian Vaksin Negara Islam

Pertemuan tahunan ke-6 Bank Pembangunan Islam (IDB) di Bandung, Jawa Barat, yang berlangsung pada 6-9 Agustus 2010 menghasilkan 10 butir rekomendasi yang dikenal dengan "10 Komitmen Bandung" untuk pelaksanaan Program Kemandirian Produksi Vaksin di negara-negara Islam.

Berikut butir "10 Komitmen Bandung" yang dihasilkan dalam pertemuan yang dipimpin Ketua Sidang, Iskandar, yang juga Direktur Utama PT Bio Farma:

1. Untuk mempercepat implementasi dari program kemandirian vaksin di tahun-tahun mendatang diusulkan kepada negara-negara Islam menyediakan tenaga-tenaga konsultan dan tenaga ahli untuk membantu mensupervisi implementasi dari proyek-proyek yang disetujui. Agar terlihat efektif, masing-masing peserta program kemandirian vaksin diminta untuk menyediakan informasi dalam situs yang telah disediakan dimana Bio Farma diminta memonitor aktifitas itu.

2. Mengingat pentingnya untuk mempromosikan penyediaan vaksin halal, IDB diminta untuk mendukung terhadap aktivitas supervise yang relevan termasuk dengan otoritas keagamaan guna memastikan informasi yang relevan dan menjadi rujukan serta pedoman bagi industri baru.. Bio Farma bersama Ninebio dan Razi Institute memonitor kegiatan itu.

3. Bio Farma bersama Nine Bio, dan Vacsera diminta mengelola dan memaksimalkan keberadaan dari situs internet yang berisi informasi mengenai kemandirian vaksin di antara negara-negara Islam. Para manajer situs terseut juga diminta untuk meningkatkan komunikasi dan memperkenalkan usulan kerjasama di antara masing-masing anggota secara efektif.

4. Partisippan Annual Meeting diundang untuk memberikan makalah dan catatan pidato dihargai dengan tinggi sebagai kontribusi utama dalam pengetahuan membagi komponen aktivitas SRVP: untuk itu, partisipan menyerukan kerjasama yang lebih intensif dengan spesialis terkemuka dan sumber daya dari pusat yang sangat baik di dalam dan di luar negara-negara anggota OKI dalam kerangka program SRVP: IDB akan terus untuk membiayai keikutsertaan mereka dalam program SRVP.

5. Biofarma dipilih sebagai titik fokus baru untuk pelaksaan pengawasan proyek dan Institute Razi sebagai Manager Pelatihan; masing-masing institusi harus menyediakan IDB dengan nama dan alamat kontak masing-masing anggota staf yang bertanggung jawab.

6. Pembentukan atau penguatan NRAs yang diakui merupakan prasyarat yang diperlukan untuk prakualifikasi WHO, sehingga prioritas harus diberikan untuk bantuan teknis kepada NRAs yang relevan, dengan permintaan surat untuk mengajukan permohonan resmi kepada IDB untuk efek ini. Bantuan dari WHO untuk NRAs dipandang perlu untuk perumusan yang tepat proyek-proyek pembangunan kapasitas mereka. Dalam hal ini, NRA Indonesia akan membantu NRA di negara-negara Islam untuk memperbaiki sistem peraturan mereka untuk memenuhi persyaratan WHO saat dibutuhkan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memimpin dalam membangun kapasitas area yang spesifik, berdasarkan pengalamannya yang sukses.

8. Mengingat biaya tinggi dan risiko tinggi yang terkait dengan pengembangan dan produksi vaksin, untuk vaksin Kaki dan Penyakit Mulut (PMK), Grup SRVP sangat menganjurkan keterlibatan sektor swasta, khususnya dalam Public Private Partnership dan kolaborasi dengan Global Finance aliansi dengan dukungan dari IDB. Indonesia akan membuka akses negara-negara OKI untuk pengembangan vaksin baru dengan menggunakan teknologi dari sistem pengiriman platform baru.

9. Disepakati para anggota SRPV untuk membentuk satuan kerja yang terdiri dari negara-negara anggota untuk mengusulkan formulasi sebagai masukan bagi WHO menyusun draft prakualifikasi baru. Indonesia dan Iran memberikan masukan bagi produser vaksin di negara anggota OIC mempercepat pencapaian prakualifikasi WHO.

10. Para partisipan mengakui efek negative dari sanksi terhadap Republik Iran dalam pengembangan industri vaksin di negara itu dalam mengembangkan produksi vaksin, dimana hal tersebut sangat penting untuk kesehatan populasi. Mereka berharap segera dibentuk badan OIC. Pasteur institute Iran dan razi Institute diminta untuk menindaklanjuti aksi ini.

Delegasi menyepakati pertemuan tahunan ketujuh tahun 2011 akan berlangsung di Republik Mali.

sumber : antaranews.com

Bagaimanakah WHO Meloloskan Vaksin

Negara-negara Islam yang menghadiri Pertemuan Tahunan ke-6 Bank Pembangunan Islam (IDB) tentang Program Kemandirian Produksi Vaksin di Bandung 6-9 Agustus mengeluhkan sulitnya mendapat pengakuan atau prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk produk vaksin yang mereka buat.

Sejumlah negara dalam pertemuan yang bertema "Self Reliance in Vaccine Production Program" itu menyatakan kesulitan mendapatkan pengakuan atau prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) atas produk vaksin yang mereka buat.

Dari 23 negara Islam penghasil vaksin, baru Indonesia --PT Bio Farma (Persero)-- yang mendapat berbagai sertifikat prakualifikasi untuk produk vaksin.

Pada 1997, Bio Farma mendapat sertifikat prakualifikasi dari WHO untuk vaksin polio dan campak, kemudian untuk produk vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pada 2001, lalu pada 2003 untuk vaksin TT Uniject, setelah itu pada 2004 untuk hepatitis, menyusul kemudian pada 2006 untuk DPT HB dan campak 20, tahun 2009 untuk MOVP, dan terakhir pada 2010 untuk vaksin BOVP.

Negara-negara Islam lain pemroduksi vaksin seperti Pasteur Institute of Iran, Pasteur Institute of Tunisia, Vacsera (Mesir), Nine Bio (Malaysia), Razi Vaccine & Serum Research Institute (Iran), Lanavet (Senegal), NIH (National Institute of Health) dan Amson Company Pakistan, belum satu pun mendapat prakualifikasi.

Vacsera Mesir telah memproduksi vaksin TT, DT, dT, DTP, Kolera, dan Tipoid, sementara Pasteur Institute of Iran menghasilkan vaksin BCG, Hepatitis B, Kolera, dan Tipoid, sedangkan Razi menghasilkan vaksin TT, DT, dT, DTP, Measles, Rubella, MMR, OPV, dan Rab.

Demikian pula NIH dari Pakistan yang telah menghasilkan vaksin TT, Hepatitis B, tipoid, dan Rab, sementara AMson COmpanye menghasilkan TT, Hepatitis B yang menerima vaksin setengah jadi (bulk vaccine) dari pembuat lain.

Hanya Tunisia yang baru menghasilkan satu vaksin, untuk BCG.

"Semuanya belum mendapat prakualifikasi. No WHO prequalified vaccines," kata Dr Houda Langar dari WHO.

Di hadapan peserta pertemuan tahunan tersebut, perempuan yang menjadi Penasihat WHO untuk kawasan timur Mediterania yang berpusat di Kairo, Mesir itu menegaskan, prakualifikasi mutlak dibutuhkan.

Prakualifikasi adalah layanan WHO untuk badan-badan PBB yang membeli vaksin, diantaranya UNICEF.

Prakulifikasi menjadi penilaian independen untuk kualitas, keamanan, dan keampuhan vaksin, memastikan bahwa vaksin bisa dipakai untuk target penduduk dan memenuhi kebutuhan program imuniasi, serta memastikan kepuasan yang berkesinambungan dengan spesifikasi dan standar kualitas yang telah ditetapkan.

Proses prakualifikasi

WHO menetapkan, vaksin yang akan diproses untuk mendapatkan prakualifikasi pertama kali harus memenuhi persyaratan badan regulasi nasional atau National Regulatory Authority (NRA) di masing-masing negara pembuat vaksin.

Untuk Indonesia, misalnya, perlu memenuhi persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Guna memenuhi persyaratan, NRA misalnya harus lulus dari sejumlah tahap yakni pertemuan dengan WHO untuk membahas spesifikasi persyaratan dan tender, pengujian konsistensi jumlah produk, konsultasi dengan NRA, evaluasi atas data klinis, dan mengunjungi fasilitas pembuatan.

Setelah semua langkah tersebut ditempuh dan hasilnya lengkap serta memuaskan, NRA lalu melaporkan kepada WHO sesuai dengan persyaratan yang ditentukan WHO. Syarat-syarat itu meliputi akses laboratorium, inspeksi regulasi, gambaran regulasi atas ujicoba klinis, otoritas/lisensi pemasaran produk, dan pengawasan pascapemasaran produk.

WHO kemudian mengevaluasi sistem regulasi yang dibuat NRA atas produk vaksin.

Houda Langar sangat merekomendasikan vaksin yang telah mendapat prakualifaksi WHO karena kualitasnya terjamin dan pasti telah dievaluasi secara menyeluruh oleh WHO.

Untuk periode 2009-2010 WHO memiliki prioritas tinggi dalam memproses 13 jenis vaksin, antara lain vaksin meningitis, vaksin demam berdarah, bivalent oral polio vaccine (bOPV), monovalent oral polio vaccine, vaksin rotavirus.

Sementara untuk prioritas menengah, WHO memproses hasil vaksin tetanus dan dipteria bagi anak, vaksis dipteria, tetanus, dan pertusis.

Kemudian untuk prioritas rendah, WHO memproses vaksin BCG, vaksin rabies, tetanus toksoid, dan vaksin tipoid.

Terakhir, ada juga vaksin yang tidak menjadi prioritas WHO, yakni vaksin monovalent hepatitis B, vaksin kolera oral, dan vaksin monovalent rubela.

sumber : antaranews.com

"Booming" Industri Vaksin

Malaria, tuberkulosis, AIDS, pandemi flu, herpes, Alzheimer, alergi, hingga diare. Sebut saja jumlah penyakit yang sering diderita manusia, industri farmasi kini sedang giat meneliti berbagai vaksin untuk mencegahnya. Sebagian besar vaksin ini diperkirakan akan beredar di pasaran dalam waktu 5 tahun mendatang.

Perkembangan teknologi vaksin di dunia memang semakin pesat. Ini memberikan secercah harapan untuk menanggulangi penyakit dan meningkatkan kesehatan. Riset vaksin sepertinya memang berjalan lambat, tapi sesungguhnya tidak tidur.

Profit besar dari setiap hak paten vaksin menarik minat industri farmasi, selain tentu saja harga vaksin itu sendiri. Bahkan kini sejumlah besar dana digunakan untuk keperluan riset dan pengembangan. Hasilnya memang mereka berhasil menciptakan berbagai penemuan dan inovasi baru.

"Bahkan hal kecil yang sedang dilakukan saat ini dipastikan akan meraih sukses besar dalam jangka waktu 10 tahun mendatang. Masa itu bisa disebut sebagai era emas," kata Emilio Emini, ketua divisi penelitian vaksin dari Pfizer.

Vaksin kini dipandang sebagai hal yang penting bagi pertumbuhan industri farmasi, terutama untuk mengimbangi lambatnya perkembangan penjualan obat resep. Bila obat yang diresepkan diprediksi akan tumbuh dalam tiga hingga lima tahun, penjualan vaksin diperkirakan bernilai dua kali lipat lebih tinggi.

Menurut lembaga riset pasar, Kalorama Information, dari 19 miliar dollar AS tahun lalu, penjualan vaksin akan naik menjadi 39 miliar dollar AS di tahun 2013. "Yang menarik, bila 25 tahun masih berkutat pada riset, kini telah menjadi uang yang nyata," kata Robin Robertson, direktur US Biomedical Advanced Research Development Authority.

Lonjakan keuntungan tersebut sedikit banyak disebabkan karena luasnya penggunaan vaksin seiring dengan rekomendasi imunisasi wajib untuk bayi yang dikeluarkan pemerintah. Saat ini pun banyak vaksin yang diwajibkan untuk orang dewasa.

Berbeda dengan obat konvensional yang dipakai untuk menyembuhkan penyakit, vaksin digunakan untuk mencegah infeksi dengan cara meningkatkan sistem imun alami untuk melawan masuknya penyakit. Vaksin diciptakan dari virus, bakteri, yang telah dibunuh atau dilemahkan sehingga secara umum mereka menyebabkan infeksi.

Di masa depan, vaksin tidak hanya akan terbatas pada injeksi, tapi juga dalam bentuk stiker yang ditempel di kulit, pil, atau semprotan hidung. Sejauh ini perusahaan farmasi asal Inggris, GlaxoSmithKline masih menjadi pembuat vaksin terbesar di dunia, mengalahkan Merck&Co.

Sayangnya, kemajuan inovasi di bidang bioteknologi ini masih didominasi oleh negara-negara maju. Kekalahan negara-negara di Asia dalam bersaing di bidang kemajuan inovasi ini menjadikan negara ini, sebagai sasaran empuk pemasaran vaksin, yang tentu saja dijual dengan harga yang relatif mahal.

Akhirnya, Ada Vaksin Pencegah HIV

Untuk pertama kalinya di dunia, uji coba vaksin untuk mencegah penularan virus AIDS akhirnya memberikan hasil yang menggembirakan. Sebelumnya, setelah sejumlah kegagalan uji coba, para ahli berpikir vaksin HIV adalah hal yang mustahil.

Dalam uji coba vaksin terbesar di dunia yang dilakukan terhadap 16.000 sukarelawan di Thailand, didapatkan hasil 31 persen relawan tidak tertular HIV. Meski hasilnya masih relatif kecil, para ahli berpendapat bukti ini sudah cukup memberi harapan bahwa kita bisa memiliki vaksin yang efektif dan aman untuk mencegah penyakit mematikan tersebut.

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Dr Anthony Fauci, mengingatkan bahwa hasil riset ini bukanlah "akhir dari perjalanan". Namun, ia mengatakan cukup terkejut dan sangat gembira dengan hasil studi tersebut.

"Ini membuat kita makin optimis untuk mengembangkan penelitian dan menciptakan vaksin AIDS yang lebih efektif. Saya yakin kita bisa melakukannya," kata Fauci.

Menurut badan dunia tentang AIDS, UNAIDS, diperkirakan 7.500 orang setiap hari terinfeksi HIV dan lebih dari dua juta orang meninggal akibat AIDS pada tahun 2007.

"Hasil riset ini adalah tonggak yang bersejarah," kata Mitchell Warren, Direktur Eksekutif AIDS Vaccine Advocacy Coalition, grup internasional yang bekerja sama untuk membuat vaksin. "Memang butuh waktu untuk menganalisis dan memahami data riset ini, tetapi hasil ini akan memberi energi baru dalam bidang vaksin AIDS," katanya.

Studi yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Thailand tersebut menggunakan strain virus HIV yang biasa ditemui di Thailand. Karena itu sejumlah ahli meragukan apakah vaksin itu juga bekerja efektif untuk strain virus yang beredar di Amerika, Afrika, atau benua lain di dunia.

Studi tersebut menguji coba dua vaksin combo untuk meningkatkan kerja vaksin. Yang pertama ditujukan untuk menguatkan sistem imun agar bisa menyerang HIV dan vaksin kedua untuk menguatkan respons.

Vaksin yang dipakai adalah ALVAC dari Sanofi Pasteur, sebuah divisi vaksin dari industri farmasi Sanofi-Aventis, dan AIDSVAX, yang dibuat oleh VaxGen Inc, sebuah lembaga nonprofit yang dikelola oleh Global Solution untuk penyakit menular.

ALVAC menggunakan canarypox, virus burung yang sudah dimodifikasi dan tidak bisa menyebabkan penyakit pada manusia untuk membawa tiga gen HIV masuk ke dalam tubuh. Sedangkan AIDSVAX mengandung versi genetik protein dari permukaan HIV. Vaksin tersebut tidak dibuat dari seluruh bagian virus, hidup atau mati, dan tidak bisa menyebabkan HIV.

Saat masing-masing vaksin diuji coba sendiri pada percobaan awal di tahun 2003, tak satu pun vaksin yang mampu mencegah penularan HIV. Para ahli pun berpendapat uji coba tersebut sia-sia. Tetapi, kombinasi dari kedua vaksin tersebut ternyata memberi hasil yang menjanjikan karena keduanya bersifat menguatkan.

Percobaan vaksin itu dilakukan pada pria dan wanita Thailand yang belum terinfeksi HIV, berusia 18-30 tahun tetapi berisiko terinfeksi. Separuh relawan menerima dosis dasar ALVAC dan dua dosis AIDSVAX selama enam bulan. Sisanya menerima injeksi dummy.

Seluruh relawan juga diberikan kondom, konseling, dan pengobatan untuk setiap penularan penyakit seksual. Mereka juga dites HIV setiap enam bulan. Setiap relawan yang terinfeksi diberikan obat antiviral secara cuma-cuma selama penelitian yang berlangsung 3 tahun itu.

Hasil riset tersebut adalah 51 orang terinfeksi dari kelompok 8.197 orang yang menerima vaksin, dan 74 orang dari 8.198 orang yang menerima injeksi dummy. Hal ini berarti risiko penularan HIV lebih rendah 31 persen pada orang yang menerima vaksin.
[K]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | TokoPasutri